Rabu, 11 Agustus 2010

Pulau Es Mengancam


Seperti Kasus Kapal Titanic

Stockholm, Rabu. Sebuah pulau es seluas 260 km2 , lima kali luas Jakarta Pusat, yang lepas dari gletser Petermann, Greenland, melintasi Lautan Arctic, pada hari rabu (11 Agustus 2010). Jika es mencair, bisa menaikkan permukaan air dunia setinggi 6 meter. Jakarta Utara bisa tenggelam jika permukaan laut naik 2-3 meter.

Pulau es yang sedang ‘berenang’ di Lautan Arctic itu segera memasuki tempat terpencil yang disebut Selat Nares, sekitar 620 km selatan Kutub Utara, yang memisahkan Greenland dan Pulau Ellsemere, Kanada. Dalam skenario terburuk, bongkahan es raksasa itu bisa saja mencapai perairan yang ramai dilalui kapal dimana bongkahan es Greenland serupa pada tahun 1912 menghancurkan Titanic.

“Pulau es itu sangat besar sehingga mustahil bisa menghentikannya.” Kata Hon-Ove Methie Hagen, glasiologis dari Universitas Oslo.

Jika pulau es setebal Empire State Building di New York ini memasuki Selat Nares sebelum beku musim dingin (bulan depan), lintas kapal di sekitar Kanada akan terusik. Dan, jika bongkahan es mengalur ke selatan akibat didorong arus, lalu mencapai perairan yang sibuk di pantai timur Kanada , maka pengiriman minyak dari Newfoundland akan terganggu.

Daya dorong pulau es itu sangat kuat, dapat menyapu anjungan minyak lepas pantai serta kapal-kapal yang ada di depannya. Benturan yang ditimbulkannya pun dapat menyebabkan kerusakan parah. Jika es itu mencair, berpotensi menaikkan permukaan laut global setinggi 20 kaki atau 6 meter!.

Pulau es itu pertama kali terlihat lewat satelit oleh seorang peramal es dari Kanada, Tudy Wohllenben pada hari kamis (5 Agustus 2010). Debit air segar jika es itu meleleh bisa memasok kebutuhan air bagi seluruh warga Amerika Serikat selama 120 hari atau 4 bulan.

Canadian Ice Service memperkirakan laju bongkahan es akan memakan waktu satu atau dua tahun mencapai pesisir timur Kanada. Kemungkinan juga akan pecah menjadi potongan-potongan kecil akibat menabrak gunung es dan pulau-pulau karang. Bongkahan-bongkahan itu juga akan roboh atau mencair akibat angin dan gelombang.

Reuters melaporkan, peristiwa lepasnya pulau es dari gletser Petermann, Kutub Utara ini merupakan fenomena alam terbesar dalam kurun waktu 28 tahun. Terakhir terjadi tahun 1962 ketika Ward Hunt Ice Shelf, Greenland membentuk sebuah pulau.

Para ilmuwan Amerika mengatakan sulit mengklaim robohnya bongkahan es raksasa itu akibat pemanasan global, sebab rekaman tentang air laut di sekitar gletser itu tersimpan sejak 2003. Aliran air laut di bawah gletser menjadi penyebab utama lepasnya pulau es dari Petermann, Greenland.

Sumber : Kompas, Kamis 12 Agustus 2010.

0 komentar:

Posting Komentar